Kalimantan, 4 Mei 2026. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan pasokan sampah sebanyak 1.270 ton per hari untuk mendukung operasional Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik atau PSEL. Pasokan tersebut akan dihimpun dari dua wilayah aglomerasi utama, yakni Samarinda Raya dan Balikpapan Raya.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Timur, Andi Sitti Asti Suriaty, mengatakan kebutuhan sampah untuk proyek tersebut dibagi ke dalam dua zona. Aglomerasi Samarinda Raya disiapkan memasok 710 ton sampah per hari, sedangkan Balikpapan Raya diproyeksikan menyumbang 560 ton per hari.
Untuk wilayah Samarinda Raya, pasokan terbesar berasal dari Kota Samarinda, yakni sekitar 660 ton per hari. Sementara itu, Kabupaten Kutai Kartanegara akan memberikan tambahan sekitar 50 ton per hari. Skema ini disiapkan agar kebutuhan bahan baku PSEL dapat terpenuhi secara stabil saat fasilitas mulai beroperasi.
Di wilayah Balikpapan Raya, sampah akan dihimpun dari Kota Balikpapan, kawasan pesisir Kutai Kartanegara, serta area Ibu Kota Nusantara. Dari kawasan pesisir Kutai Kartanegara, pasokan yang disiapkan sekitar 20 ton per hari. Keterlibatan wilayah sekitar IKN membuat proyek ini diposisikan sebagai bagian dari pengelolaan sampah berkelanjutan di kawasan strategis Kalimantan Timur.
Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup Kaltim telah memfasilitasi diskusi teknis dan penandatanganan perjanjian kerja sama terkait realisasi PSEL pada April 2026. Tim lintas lembaga juga telah melakukan peninjauan lapangan di Samarinda dan Balikpapan untuk memeriksa kesiapan infrastruktur pendukung proyek tersebut.
PSEL diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir sekaligus memberi nilai tambah dari sampah melalui produksi energi listrik. Selain menangani persoalan lingkungan, proyek ini juga diarahkan untuk mendukung bauran energi dan mendorong tata kelola sampah yang lebih bernilai ekonomi.
Dengan pasokan 1.270 ton sampah per hari, pemerintah daerah menilai kolaborasi antarwilayah menjadi faktor penting. Tanpa suplai sampah yang konsisten, operasional PSEL berisiko tidak berjalan optimal. Karena itu, pengaturan sumber pasokan dari Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, dan IKN menjadi bagian utama dalam desain pelaksanaan proyek.

