Kalimantan, 27 Juli 2026. Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober atau awal November 2026. Kondisi kering diprediksi semakin terasa dalam beberapa bulan mendatang, terutama ketika memasuki puncak kemarau pada September.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui Stasiun Meteorologi Iskandar Kotawaringin Barat mencatat wilayah tersebut telah memasuki musim kemarau sejak dasarian ketiga Juni. Periode kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung selama 13 hingga 15 dasarian.
Berkurangnya hujan mulai terlihat dari cuaca cerah yang lebih sering terjadi, meningkatnya suhu pada siang hari, serta kelembapan udara yang relatif rendah. Dalam kondisi tertentu, suhu udara di Kotawaringin Barat bahkan berpotensi mencapai sekitar 36 derajat Celsius.
Forecaster BMKG Kotawaringin Barat, Ayu Istiqomah, menjelaskan cuaca kering dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Australia. Fenomena tersebut membawa massa udara dengan kandungan uap air rendah melewati wilayah Indonesia, termasuk sebagian Kalimantan Tengah.
Minimnya kandungan uap air menyebabkan pembentukan awan hujan tidak berlangsung secara optimal. Akibatnya, sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan dan membuat suhu udara terasa lebih panas, khususnya pada siang hingga sore hari.
Selain pengaruh Monsun Australia, kondisi El Nino kategori moderat juga disebut turut mengurangi curah hujan. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat musim kemarau di Kotawaringin Barat terasa lebih dominan dibandingkan kondisi normal.
September Diperkirakan Menjadi Puncak Kemarau
BMKG memprakirakan puncak musim kemarau di Kotawaringin Barat terjadi pada September 2026. Pada periode itu, peluang terjadinya hujan diperkirakan tetap rendah, sedangkan suhu udara berpotensi meningkat.
Masyarakat yang bekerja di luar ruangan diminta mengatur waktu aktivitas agar tidak terlalu lama terpapar sinar matahari. Warga juga disarankan mencukupi kebutuhan air minum dan menggunakan perlindungan seperti topi, payung, atau pakaian yang nyaman.
Kemarau berkepanjangan turut berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih. Penggunaan air secara bijak diperlukan agar kebutuhan rumah tangga tetap dapat terpenuhi apabila sumber air mulai mengalami penurunan.
Meski telah memasuki musim kemarau, hujan lokal masih mungkin terjadi. Namun, hujan tersebut diperkirakan bersifat tidak merata dan belum cukup untuk mengakhiri periode kering yang berlangsung di wilayah Kotawaringin Barat.
Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat
Cuaca panas, vegetasi mengering, serta tiupan angin membuat risiko kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi. Api yang muncul pada lahan kering dapat menyebar dalam waktu singkat, terutama jika kebakaran terjadi di kawasan gambut.
Berdasarkan rekapitulasi BPBD Kotawaringin Barat hingga pertengahan Juli 2026, petugas telah menangani sekitar 113,51 hektare lahan terbakar. Kebakaran tersebut tersebar di puluhan lokasi, dengan kejadian terbanyak ditemukan di Kecamatan Arut Selatan, Kumai, dan Kotawaringin Lama.
Pemadaman tidak selalu berjalan mudah karena sejumlah titik kebakaran berada jauh dari sumber air. Petugas juga harus menghadapi medan gambut yang membuat api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran di bagian atas telah padam.
Masyarakat dilarang membuka lahan dengan cara membakar. Pembakaran sampah, rumput, maupun daun kering juga perlu dihindari karena percikan api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas ketika cuaca sedang panas dan berangin.
Warga Diminta Menjaga Kesehatan
Selain menimbulkan ancaman karhutla, musim kemarau dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Udara kering dan debu dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut, terutama pada anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.
Cuaca panas juga dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Apabila tidak diimbangi dengan konsumsi air yang cukup, seseorang dapat mengalami dehidrasi, kelelahan akibat panas, bahkan heatstroke.
Masyarakat disarankan menggunakan masker ketika berada di lingkungan berdebu atau terpapar asap. Kebersihan makanan dan air minum juga harus dijaga karena suhu tinggi dapat mempercepat kerusakan makanan dan pertumbuhan bakteri.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan cuaca dan titik panas. Warga diminta mengikuti informasi resmi BMKG serta segera melapor kepada petugas apabila menemukan asap atau kebakaran lahan di lingkungan sekitar.
Kewaspadaan bersama dinilai penting untuk mengurangi dampak kemarau panjang. Pencegahan kebakaran, penghematan air, dan perlindungan kesehatan perlu dilakukan sejak dini hingga kondisi hujan kembali normal.

