Warga Ketapang meninggal akibat hantavirus. Dinkes sebut kasus pertama di daerah itu dan imbau masyarakat waspada menjaga kebersihan lingkungan.
Warga Ketapang Meninggal akibat Hantavirus, Dinkes Sebut Kasus Pertama di Daerah Itu

Warga Ketapang Meninggal akibat Hantavirus, Dinkes Sebut Kasus Pertama di Daerah Itu

Kalimantan Barat, 17 Mei 2026. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang mengonfirmasi satu warga meninggal dunia setelah terpapar hantavirus. Kasus tersebut disebut sebagai temuan pertama hantavirus di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pasien dilaporkan sempat menjalani perawatan di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang sebelum akhirnya meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira, menjelaskan bahwa pasien yang terkonfirmasi hantavirus tersebut sebelumnya mendapat perawatan medis di RSUD dr. Agoesdjam Ketapang. Namun, kondisi pasien memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.

Menurut keterangan Dinkes, pasien tidak hanya terpapar hantavirus, tetapi juga memiliki penyakit penyerta. Kondisi tersebut diduga ikut memperberat keadaan kesehatan pasien selama menjalani perawatan.

Kasus ini menjadi perhatian otoritas kesehatan karena merupakan temuan pertama yang tercatat di Ketapang. Pemeriksaan terhadap sampel pasien dilakukan untuk memastikan penyebab infeksi sebelum hasilnya dinyatakan berkaitan dengan hantavirus.

Dinkes Ketapang menyebut kepastian kasus diperoleh setelah sampel pasien diperiksa di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Lingkungan atau BBLKL Salatiga, Jawa Tengah. Pemeriksaan tersebut menjadi dasar konfirmasi bahwa pasien terpapar hantavirus. Setelah hasil keluar, Dinas Kesehatan bersama tim terkait langsung melakukan tindak lanjut di lapangan. Langkah tersebut dilakukan untuk menelusuri kemungkinan sumber penularan dan memastikan kondisi warga di sekitar lokasi kasus.

Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Meski kasus ini perlu diwaspadai, Dinkes menegaskan bahwa hantavirus tidak menular melalui kontak antar-manusia dalam kasus tersebut. Hantavirus umumnya berkaitan dengan paparan terhadap tikus atau lingkungan yang terkontaminasi urine, kotoran, maupun air liur hewan pengerat. Dinkes Ketapang menyampaikan bahwa penularan pada kasus ini berasal dari tikus ke manusia, bukan dari manusia ke manusia.

Karena itu, masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah, gudang, dapur, saluran air, serta area yang berpotensi menjadi tempat tikus berkembang biak. Sampah rumah tangga juga perlu dikelola dengan baik agar tidak mengundang hewan pengerat masuk ke lingkungan permukiman. Selain itu, warga disarankan berhati-hati saat membersihkan tempat yang lama tidak digunakan. Area tertutup, lembap, atau kotor sebaiknya dibersihkan menggunakan pelindung diri sederhana seperti masker dan sarung tangan.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Ketapang bersama tim kesehatan melakukan penelusuran terhadap warga di sekitar lingkungan pasien. Pemeriksaan dan pemantauan dilakukan untuk memastikan tidak ada gejala serupa yang berkembang di masyarakat. Dinkes juga disebut masih melakukan langkah lanjutan, termasuk pemeriksaan terkait kemungkinan sumber penularan di sekitar lokasi. Upaya tersebut penting untuk mengetahui apakah ada populasi tikus yang membawa virus di lingkungan tersebut.

Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti demam, nyeri otot, lemas, gangguan pernapasan, atau gejala berat lain setelah berada di lingkungan yang diduga terkontaminasi tikus. Kasus kematian akibat hantavirus di Ketapang menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan sanitasi lingkungan. Dinkes menekankan bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan, tetapi tidak perlu disertai kepanikan berlebihan.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menutup akses tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, membersihkan sisa makanan, membuang sampah secara rutin, serta menghindari kontak langsung dengan kotoran atau bangkai tikus. Dengan penanganan cepat dan kebersihan lingkungan yang terjaga, risiko penularan hantavirus dapat ditekan. Pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan akan terus memantau perkembangan kasus ini agar tidak menimbulkan kekhawatiran lebih luas di masyarakat.