Dinsos Kaltim mengoptimalkan pemulihan 81 anak korban kekerasan melalui perlindungan, pendidikan, konseling, dan rehabilitasi sosial.
81 Anak Korban Kekerasan Jalani Pemulihan Terpadu di PSPA Dharma Kaltim

81 Anak Korban Kekerasan Jalani Pemulihan Terpadu di PSPA Dharma Kaltim

Kalimantan, 10 Juli 2026. Sebanyak 81 anak yang menjadi korban berbagai bentuk kekerasan mendapatkan perlindungan dan layanan pemulihan melalui UPTD Panti Sosial Perlindungan Anak atau PSPA Dharma milik Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur.

Anak-anak tersebut berasal dari sejumlah wilayah di Kalimantan Timur dan ditangani sepanjang 2026. Mereka menghadapi latar belakang permasalahan yang berbeda, mulai dari kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, tindak pidana perdagangan orang hingga dampak bencana alam.

Penanganan tidak berhenti pada penyediaan tempat tinggal sementara. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berupaya memastikan setiap anak memperoleh lingkungan yang aman, pendampingan psikologis, pendidikan, serta pembinaan untuk membantu mereka kembali menjalani kehidupan secara wajar.

Kepala UPTD PSPA Dharma, Sri Wahyuni, menjelaskan bahwa fungsi lembaga tersebut kini semakin diarahkan pada perlindungan anak yang membutuhkan penanganan khusus. PSPA Dharma tidak hanya menampung anak terlantar, tetapi juga menjadi ruang pemulihan bagi anak-anak yang mengalami tekanan psikologis akibat kekerasan.

Lingkungan Aman Menjadi Dasar Pemulihan

Proses pemulihan anak korban kekerasan memerlukan lingkungan yang jauh dari ancaman serta situasi yang dapat memunculkan kembali trauma. Karena itu, pengelola PSPA Dharma menerapkan pendekatan perlindungan tempat tinggal atau home protection selama anak menjalani pendampingan.

Melalui pendekatan tersebut, kebutuhan fisik dan emosional anak ditangani secara bersamaan. Anak memperoleh tempat tinggal yang layak, makanan bergizi, pakaian, akses kesehatan, serta kesempatan mengikuti pendidikan formal sesuai jenjangnya.

Meskipun tinggal di lingkungan panti, anak-anak tetap mengikuti kegiatan belajar di sekolah umum. Kebijakan tersebut diterapkan agar mereka tidak kehilangan hak pendidikan sekaligus tetap dapat berinteraksi dengan lingkungan sosial di luar panti.

Pendampingan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing anak. Setiap korban dapat memiliki pengalaman, tingkat trauma, dan kebutuhan pemulihan yang berbeda sehingga penanganannya tidak dapat disamaratakan.

Pendampingan Psikologis dan Penguatan Mental

Selain memenuhi kebutuhan dasar, PSPA Dharma menyediakan rehabilitasi sosial yang diarahkan untuk mengembalikan rasa percaya diri anak. Pendampingan melibatkan layanan psikologis klinis, konseling, pengembangan karakter, serta kegiatan untuk memperkuat kondisi mental.

Program tersebut diharapkan membantu anak mengelola rasa takut, kecemasan, tekanan emosional, maupun pengalaman buruk yang masih memengaruhi kehidupan mereka. Proses pemulihan dilakukan secara bertahap agar anak tidak merasa tertekan ketika menceritakan atau menghadapi kembali pengalaman yang pernah dialami.

Pengelola juga menyediakan layanan hipnoterapi sebagai salah satu metode pendukung bagi anak yang mengalami hambatan psikologis mendalam. Pelaksanaannya menjadi bagian dari rangkaian pembinaan yang disesuaikan dengan kebutuhan penerima layanan.

Pemulihan trauma dinilai penting karena dampak kekerasan dapat memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang. Tanpa pendampingan yang tepat, korban berisiko mengalami kesulitan belajar, menarik diri dari lingkungan, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan membangun hubungan sosial.

Sepuluh Program Pembinaan Dijalankan

Di luar kegiatan sekolah, anak-anak mengikuti sekitar 10 program pembinaan yang telah disusun secara terstruktur. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mendukung perkembangan fisik, mental, spiritual, keterampilan, dan kemampuan bersosialisasi.

Pembinaan spiritual diberikan melalui pendalaman agama dan pendidikan budi pekerti. Kegiatan itu bertujuan memperkuat nilai moral sekaligus memberikan ketenangan kepada anak selama mengikuti proses pemulihan.

Anak-anak juga mendapatkan kesempatan mempelajari sejumlah keterampilan, antara lain musik, menjahit, dan komputer. Sementara untuk menjaga kebugaran, pengelola menyediakan kegiatan olahraga serta senam sehat.

Program keterampilan tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan pengisi waktu. Pembinaan tersebut juga diarahkan untuk membantu anak mengenali minat, mengembangkan kemampuan, serta membangun kemandirian yang dapat menjadi bekal pada masa depan.

PSPA Dharma turut membentuk Persatuan Remaja Dharma sebagai wadah organisasi bagi penghuni panti. Melalui kegiatan organisasi, anak-anak dilatih untuk bertanggung jawab, bekerja sama, menyampaikan pendapat, serta membangun kemampuan kepemimpinan.

Asrama Dibuat dengan Konsep Kekeluargaan

PSPA Dharma berada di Jalan HM Rifaddin, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda. Kompleks panti tersebut berdiri di atas lahan sekitar 5,3 hektare dan dilengkapi 10 unit asrama atau wisma.

Setiap wisma dirancang untuk menampung sekitar delapan hingga sepuluh anak. Pengaturan penghuni dalam kelompok kecil bertujuan menciptakan suasana yang lebih tenang, dekat, dan menyerupai kehidupan keluarga.

Konsep tersebut juga memudahkan petugas dalam memantau perkembangan anak selama menjalani rehabilitasi. Perubahan perilaku, kondisi emosional, aktivitas sekolah, dan kebutuhan khusus anak dapat dikenali lebih cepat melalui pendampingan yang intensif.