Kalimantan Timur, 19 Juli 2026. Perjalanan menuju sekolah menjadi tantangan tersendiri bagi sejumlah pelajar yang tinggal di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Mereka masih mengandalkan kereta gantung sederhana untuk menyeberangi Sungai Santan karena belum tersedia jembatan permanen.
Sarana penyeberangan tersebut berupa tempat duduk dari material sederhana yang digantung pada kabel baja. Kereta digerakkan secara manual dengan menarik tali dari satu sisi sungai menuju sisi lainnya. Bagi warga setempat, alat itu bukan sekadar fasilitas pengangkut barang, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan anak-anak saat berangkat dan pulang sekolah.
Kereta gantung tersebut menghubungkan wilayah permukiman di dua rukun tetangga di Desa Santan Ulu. Pelajar yang melintasinya antara lain menuju SD Negeri 021 Marang Kayu dan sekolah menengah yang berada di sekitar wilayah tersebut. Keberadaan SD Negeri 021 Marang Kayu di Desa Santan Ulu juga tercatat dalam basis data pendidikan pemerintah.
Berawal dari Sarana Mengangkut Hasil Kebun
Penggunaan kereta gantung awalnya bukan diperuntukkan bagi pelajar. Warga membuat sarana itu untuk memindahkan hasil pertanian dari kebun yang berada di seberang sungai. Seiring bertambahnya permukiman dan kebutuhan masyarakat, kereta tersebut kemudian ikut digunakan sebagai jalur penyeberangan menuju sekolah.
Dalam sekali perjalanan, kereta gantung diperkirakan mampu membawa empat hingga lima orang. Ketika digunakan untuk mengangkut hasil kebun, kapasitasnya dapat mencapai sekitar 200 sampai 300 kilogram. Saat ini terdapat beberapa kereta gantung serupa di Desa Santan Ulu, baik yang dibangun secara swadaya maupun dengan dukungan anggaran desa.
Pilihan menggunakan sarana tersebut tidak terlepas dari kondisi Sungai Santan. Selain memiliki bentang yang cukup lebar dan aliran yang dalam, sungai itu juga dikenal masyarakat sebagai habitat buaya. Kondisi tersebut membuat penyeberangan menggunakan perahu dinilai memiliki risiko tersendiri.
Meskipun kereta gantung dianggap lebih praktis oleh warga, penggunaannya tetap memerlukan kehati-hatian. Anak-anak harus berada di atas sarana yang bergerak menggantung di atas sungai tanpa perlindungan sebagaimana fasilitas transportasi umum yang memenuhi standar keselamatan.
Warga Menantikan Jembatan Permanen
Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, menyampaikan bahwa usulan pembangunan jembatan telah diajukan melalui pemerintah kabupaten hingga program pemerintah pusat. Lokasi penyeberangan juga pernah ditinjau oleh pemerintah daerah, tetapi pembangunan belum dapat direalisasikan.
Salah satu persoalan yang diduga memengaruhi pembangunan adalah status kawasan di sekitar lokasi yang berkaitan dengan hutan lindung. Pemerintah desa berharap persoalan administrasi dan kewenangan tersebut dapat dicarikan jalan keluar karena kawasan di seberang sungai telah dihuni warga serta memiliki jaringan listrik.
Kereta gantung di Santan Ulu dilaporkan telah digunakan masyarakat selama hampir sembilan tahun. Pemerintah desa juga telah berupaya menyiapkan akses jalan menuju titik penyeberangan. Namun, tanpa jembatan permanen, warga dan pelajar masih bergantung pada sarana sederhana itu untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah rekaman perjalanan pelajar menyeberangi sungai beredar di media sosial. Warga berharap perhatian publik dapat mendorong pemerintah mempercepat pembangunan akses yang lebih aman.
Jembatan permanen dinilai tidak hanya penting bagi keselamatan pelajar, tetapi juga dapat memperlancar kegiatan pertanian, pergerakan warga, dan distribusi hasil kebun. Bagi masyarakat Santan Ulu, kehadiran jembatan merupakan kebutuhan dasar agar anak-anak tidak lagi mempertaruhkan keselamatan dalam perjalanan menuju sekolah.

