Kekeringan mulai mengganggu kebutuhan air bersih warga Kotawaringin Timur. Empat desa terdampak dan distribusi air mulai disiapkan pemerintah.
Kekeringan Mulai Berdampak pada Kebutuhan Air Bersih Warga Kotawaringin Timur

Kekeringan Mulai Berdampak pada Kebutuhan Air Bersih Warga Kotawaringin Timur

Kalimantan, 22 Juli 2026. Musim kemarau mulai memengaruhi ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Sumur dan sumber air alami yang selama ini digunakan warga mulai mengalami penurunan debit, sedangkan air sungai di kawasan pesisir berubah payau akibat masuknya air laut.

Kondisi tersebut paling awal dirasakan masyarakat yang tinggal di wilayah selatan Kotawaringin Timur. Sedikitnya empat desa telah menyampaikan kebutuhan bantuan air bersih kepada pemerintah daerah, yakni Desa Kuin Permai, Lempuyang, Rawa Lestari, dan Jaya Karet.

Keempat desa itu berada di Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan. Wilayah tersebut memang termasuk kawasan yang rentan mengalami kekurangan air ketika hujan tidak turun dalam waktu lama.

Masyarakat sebelumnya masih mengandalkan air dari sumur, danau, sungai, serta penampungan air hujan. Namun, cadangan yang tersedia semakin terbatas seiring berlanjutnya musim kemarau. Air sungai juga tidak selalu dapat digunakan karena rasanya mulai asin atau payau.

Distribusi Air Bersih Mulai Disiapkan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur telah berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mentaya untuk menyiapkan penyaluran air bersih secara berkala. Distribusi akan diprioritaskan ke desa yang telah melaporkan kesulitan memperoleh air layak konsumsi.

Kebutuhan dalam satu kali penyaluran diperkirakan mencapai 15.000 hingga 20.000 liter untuk setiap desa. Jumlah tersebut memerlukan sekitar empat sampai lima kendaraan tangki dalam satu kali proses distribusi.

Bantuan air terutama digunakan untuk kebutuhan dasar, seperti memasak dan minum. Dengan pembagian sekitar 200 liter untuk setiap keluarga, persediaan diperkirakan hanya mampu bertahan selama kurang lebih satu pekan.

Keadaan ini membuat penyaluran air tidak dapat dilakukan hanya sekali. Selama sumber air warga belum pulih dan hujan belum turun secara merata, pemerintah perlu melakukan pengiriman secara berkelanjutan.

Keterbatasan armada dan jauhnya jarak menuju permukiman menjadi tantangan tersendiri. Pemerintah daerah perlu mengatur jadwal pengiriman agar bantuan dapat menjangkau seluruh wilayah terdampak tanpa menimbulkan antrean panjang di lokasi pembagian.

Ancaman Kekeringan Berpotensi Meluas

BPBD Kotawaringin Timur memperkirakan dampak kekeringan dapat menjangkau wilayah lain apabila cuaca panas bertahan dalam beberapa pekan mendatang. Kecamatan Pulau Hanaut dan Seranau menjadi dua kawasan yang turut mendapat perhatian karena sebagian masyarakatnya masih bergantung pada sumber air alami.

Penanganan di Pulau Hanaut dinilai lebih rumit karena distribusi bantuan harus menggunakan jalur sungai. Apabila krisis air meluas ke kawasan tersebut, pemerintah kemungkinan perlu mengoperasikan kapal atau angkutan air berkapasitas besar untuk membawa pasokan.

Pengiriman melalui jalur sungai pernah dilakukan ketika kekeringan melanda Kotawaringin Timur pada tahun-tahun sebelumnya. Langkah serupa dapat kembali diterapkan apabila kendaraan tangki tidak mampu mencapai lokasi permukiman.

Selain mengancam kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga dapat memengaruhi sektor pertanian. Kawasan selatan Kotawaringin Timur merupakan salah satu wilayah produksi pangan sehingga berkurangnya persediaan air berpotensi mengganggu aktivitas petani dan hasil panen.

Warga Diminta Menghemat Persediaan

Masyarakat diimbau menggunakan air bersih secara lebih terukur, terutama untuk keperluan yang paling mendesak. Penampungan air juga perlu dijaga tetap tertutup agar tidak tercemar dan tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Pemerintah desa diharapkan aktif mencatat jumlah keluarga terdampak, kondisi sumber air, serta kebutuhan harian masyarakat. Data tersebut diperlukan agar distribusi bantuan dapat dilakukan secara tepat dan tidak hanya terpusat pada kawasan yang mudah dijangkau.

Krisis air bersih pada awal musim kemarau menjadi tanda bahwa kesiapsiagaan perlu ditingkatkan. Penyaluran melalui kendaraan tangki dapat menjadi solusi darurat, tetapi pembangunan jaringan air, sumur dalam, dan fasilitas penampungan tetap dibutuhkan sebagai penanganan jangka panjang.

Tanpa langkah pencegahan yang terencana, masyarakat pesisir Kotawaringin Timur berisiko menghadapi persoalan serupa setiap kali musim kemarau tiba.